Ketimbang Maki-Maki Presiden, Mending Dadi ‘Presiden’ Desa!
Suara bising media sosial akhir-akhir ini benar-benar memekakkan telinga dan membuat pikiran sumuk. Bahkan, tiap kali kita membuka layar HP, kita melulu melihat warganet berdebat kusir soal isu politik nasional. Sebagian orang juga rajin memaki-maki kebijakan pemerintah pusat.
Warganet kita rasanya gampang banget mengetik kritik pedas buat Presiden di Jakarta. Mereka seolah-olah menganggap tugas mengurus negara sebesar Indonesia ini segampang main game balap mobil.
Iklim demokrasi memang mewajibkan kita melempar kritik. Namun, kalau kita cuma menghabiskan energi untuk marah-marah di kolom komentar tanpa melahirkan aksi nyata, kita sebaiknya segera leren, ngopi dulu. Ketimbang kita pusing memikirkan hal di luar kendali, kita sebaiknya mengalihkan energi melimpah itu untuk mengeksekusi kerja-kerja riil di dunia nyata.
Kebetulan, aku menemukan semangat kerja riil ini saat aku mengisi acara Studium Generale di Hotel Moroseneng, Banyumas tadi siang. Selama acara berlangsung, forum bergengsi ini membahas tuntas cara pemimpin muda mentransformasi kepemimpinan lokal. Lebih dari itu, forum ini sangat luar biasa karena panitia menghadirkan para pemuda hebat perwakilan dari seluruh penjuru Jawa Tengah.
Tantangan Menjadi ‘Presiden’ Desa
Awalnya, di depan wajah-wajah cerdas dan penuh energi itu, aku sempat ndredeg saat memikirkan bahan obrolan. Akan tetapi, antusiasme mereka akhirnya memaksaku melempar satu tantangan yang lumayan menohok.
“Ojo mung jago kandang!” begitu seruanku menggelegar menantang para audiens. Daripada kalian menghabiskan energi meratapi kondisi negara yang ruwet atau memaki Presiden di medsos, sebaiknya pulang saja. Jadilah ‘Presiden’ di desa kalian sendiri. Beranikan diri maju menjadi kepala desa!
Loh,ada apa? Ujug-ujug serukan rebut jabatan kepala desa? Mengapa kita sangat membutuhkan posisi kepala desa?
Mari kita pakai logika sederhana. Saat pemuda memilih karir menjadi aktivis lingkungan, ketua panitia pengajian, atau penggerak karang taruna di kampung, mereka sungguh melakukan pekerjaan yang sangat mulia. Sayangnya, gerakan mulia ini hanya menghasilkan dampak pada level mikro.
Kalian ibarat jagoan lokal yang menyelesaikan masalah warga secara eceran. Meskipun kalian memang melakukan gerakan keren, tapi rutinitas ini sangat melelahkan. Dan kalian mungkin tidak akan pernah menuntaskan akar masalah utamanya.
Dari Dampak Mikro Menuju CEO of The Village
Sebaliknya, kalian akan mengubah kondisi desa secara drastis kalau berani merebut kursi kepala desa. Sebab, jabatan ini memberi kalian wewenang memegang stempel kebijakan secara resmi. Kepala desa punya otoritas penuh untuk menciptakan inovasi desa yang memberikan dampak makro dan sistemik.
Terlebih lagi saat ini, posisi kepala desa tampil sangat strategis karena pemerintah memberi hak mengelola dana desa hingga miliaran rupiah setiap tahunnya.
Bisa dibilang, kepala desa zaman now bekerja layaknya seorang “CEO of the Village”. Melalui instrumen negara di tangan, kalian bisa menyulap BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) menjadi start-up mentereng. Nantinya, BUMDes ini akan menghasilkan pendapatan besar bagi warga.
Lalu, kalian juga bisa memuluskan aspal jalan desa dan memajukan UMKM pemuda. Kalian bahkan bisa mengucurkan anggaran spesifik untuk memberantas gizi buruk di gang-gang sempit. Ujungnya, kebijakan cerdas ini bisa langsung mengubah nasib ribuan wargamu dalam satu tarikan napas.
Dari Kepala Desa Menuju Bupati
Di sisi lain, pemimpin muda akan melewati ujian leadership sejati saat mereka mengurus desa. Di balai desa, kalian berinteraksi langsung dengan warga berkarakter unik dan harus merespons dinamika sosial yang kompleks.
Apabila kalian berani turun gunung, merangkul semua perbedaan, dan sukses mengeksekusi program pemberdayaan ekonomi lokal, mental kepemimpinan kalian berarti sudah melewati ujian kehidupan yang sebenarnya.
Apakah kalian masih meragukan balai desa sebagai panggung perubahan yang strategis? Sebagai buktinya, mari kita menengok kiprah Mas Dwinanto di Desa Krandegan, Purworejo. Lewat terobosan gokilnya, Mas Dwinanto sukses menyulap desa biasa menjadi desa percontohan. Alhasil, desa ini berhasil memukau publik nasional lewat rekam jejak yang mentereng.
Kini kepala desa inovatif akan tampil sebagai influencer sejati di dunia nyata. Warga merasakan langsung dampak inovasi desa di urat nadi ekonomi mereka, bukan sekadar memburu angka views semu di internet.
Faktanya, sejarah membuktikan balai desa selalu menjadi kawah candradimuka paling ampuh buat tokoh publik melompatkan karirnya. Banyak figur kharismatik memulai langkah besarnya dari balai desa.
Kita bisa melihat Pak Agus Gondrong yang sukses melesat menjadi Bupati Temanggung. Atau almarhum Pak Kelik Sumrahadi di Purworejo. Pengabdian tulus mereka saat melayani tetangga desa sukses mengantarkan mereka memimpin sebuah kabupaten.
Visi Spiritual Kepala Desa
Secara spiritual, semangat mengurusi hajat hidup warga desa ini membuka jalan paling rasional untuk merealisasikan pesan Kanjeng Nabi Muhammad SAW:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Apalagi, setiap hari kita selalu melangitkan doa agar Allah menjadikan kita pemimpin yang baik:
وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).
Sejatinya, kita meminta Allah memberi posisi imam itu bukan sekadar untuk memimpin urusan keluarga, tetapi juga memimpin peradaban umat. Dan ingat, akar peradaban bangsa ini menancap sangat kuat di desa-desa.
Maka dari itu, anak-anak muda pintar dan bernyali besar wajib turun gelanggang! Mulai sekarang, kalian harus berhenti sekadar menjadi penonton dan komentator di tribun medsos. Kalian harus membuktikan kemampuan mengurus rakyat, mulai dari membangun daerah kecil bernama desa.
Jangan cuma mengomel memaki Presiden di Jakarta, kalau kita sendiri masih malas menambal jalan rusak di depan rumah.
Urip iku sawang sinawang. Maka, singsingkan lengan baju, jadilah “Presiden” desa, dan bawa keberkahan nyata buat wargamu. Bismillah budhal, mlaku sik. Urusan liyane ben Gusti Allah yang ndandani!
Tabik.