Dakwah Islam Kok Bikin Sumuk? Belajar Jurus ‘Menang Tanpa Ngasorake’ ala Budaya Jawa

Pemimpin muda Muslim mengenakan peci dan kemeja batik tersenyum hangat menjabat tangan sekelompok petani di tengah sawah terasering, mewakili harmoni dakwah budaya Jawa dan pendekatan akar rumput.
MERANGKUL AKAR RUMPUT: Pendekatan dakwah kultural ala budaya Jawa menuntut kita turun langsung menyapa masyarakat dan menghadirkan solusi nyata, ketimbang sekadar melempar kritik bising di media sosial. (Ilustrasi/AI)

Tulisanku minggu lalu sukses memancing antusiasme luar biasa dari para netizen saat aku mengajak anak muda memimpin balai desa. Sebenarnya, aku menelurkan gagasan spontan ini saat aku menghadiri Rapat Koordinasi Gabungan di Hotel Moroseneng, Banyumas. Bahkan, aku sengaja meminta para pemuda hebat se-Jawa Tengah hari itu untuk berhenti sambat di medsos dan mulai mengeksekusi kerja riil.

Sejujurnya, forum di Banyumas tersebut tidak melulu membahas strategi pemuda merebut kursi desa. Sepanjang sesi Studium Generale, aku duduk anteng dan menyimak paparan budayawan Banyumas, Mas Nasirun Purwokartun. Bersama beliau, kami membedah tuntas materi dan membicarakan rahasia agung tentang cara umat Islam memenangkan hati masyarakat luas. Kita wajib memahami filosofi budaya Jawa secara mendalam untuk memenangkan hati rakyat.

Infiltrasi Kultural ala Dakwah Wali Songo

Membaca sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa, para Wali Songo membuktikan keampuhan strategi dakwah yang sangat elegan. Para wali ini sejak awal mencoret opsi invasi militer yang agresif atau pendekatan kasar. Mengganti cara-cara militer tersebut, mereka memilih jalan infiltrasi kultural dengan penuh perhitungan. Mengambil contoh Maulana Malik Ibrahim, sang wali sukses memikat hati rakyat lewat keahliannya menata sistem irigasi pertanian warga.

Menyimak metode infiltrasi para wali ini, aku langsung teringat film fiksi ilmiah “Inception” (2010). Sutradara top Christopher Nolan dalam film itu sukses menanamkan ide besar ke alam bawah sadar tanpa membuat targetnya merasa terancam.

Menyerap ilmu merangkul yang sama, filosofi Jawa mewariskan konsep luhur bernama Memayu Hayuning Bawana. Memegang prinsip luhur ini, manusia wajib memperindah dunia dan membawa harmoni bagi alam semesta. Mewujudkan harmoni semesta mensyaratkan gerakan dakwah Islam tampil sebagai pemecah masalah rakyat, bukan penambah keruwetan sosial.

“Menang Tanpa Ngasorake”, Kompetisi Politik Bermartabat

Melengkapi konsep menjaga harmoni, leluhur kita juga mewariskan prinsip Menang Tanpa Ngasorake. Mengamalkan prinsip ksatria ini, kita pantang merendahkan martabat pihak lawan saat meraih kemenangan gemilang. Menghadapi perbedaan pendapat di ruang publik, kita tetap wajib mengkritik inti gagasan tanpa menyerang kehormatan personal lawan. Menjaga kehormatan lawan ini sungguh mempresentasikan sebuah kompetisi politik yang bermartabat.

Membawa semua ide besar ini ke tengah masyarakat tentu membutuhkan strategi eksekusi yang tepat. Mengeksekusi strategi dakwah, orang Jawa mengandalkan jurus pamungkas bernama Alon Waton Kelakon. Mengayunkan langkah merawat basis massa, kita memang harus merencanakan segala sesuatunya dengan matang dan mengedepankan kesabaran ekstra.

Memelihara kesabaran ini mencegah kita bertindak grusa-grusu yang berpotensi menghancurkan tatanan sistem masyarakat. Membangun tatanan yang kuat selalu membutuhkan ketekunan merawat akar rumput dari waktu ke waktu.

Merawat Akar Rumput Lewat Kesantunan Dakwah

Merenungkan seluruh warisan filosofi Jawa tadi, aku menemukan benang merah yang sangat sejalan dengan perintah Gusti Allah. Gusti Allah telah mengukir petunjuk abadi ini di dalam Al-Quran Surah An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”

Menjalankan perintah agama sekaligus merawat budaya luhur, mari kita menurunkan tensi dan membuang jauh-jauh hobi berteriak di media sosial. Merangkul semua pihak lewat pendekatan budaya Jawa yang membumi jelas lebih menyejukkan hati.

Menyudahi tulisan ini, aku mengajak kita semua gas kalem, sing penting tekan tujuan. Menebar senyum dan membawa solusi nyata akan membiarkan keindahan akhlak kita berbicara lebih keras memenangkan peradaban!

Tulisan Lainnya