Berbeda Awal, Disatukan oleh Takwa

A serene sunset scene with a crescent moon over silhouetted mountains and a colorful sky.

Setiap awal Ramadhan, seolah hilal menguji langit dan perbedaan menguji hati kita. Ada yang memulai lebih awal, ada yang sehari kemudian. Namun pertanyaan terpenting bukanlah, “Kau mulai kapan?” melainkan, “Hatimu sudah siap atau belum?”

Perbedaan adalah sunnatullah. Ia bisa menjadi rahmat jika disambut dengan hati yang lapang. Seperti kisah para sahabat saat memahami perintah Nabi Saw tentang shalat Ashar di Bani Quraizhah. Mereka berbeda dalam cara, tetapi sama dalam niat. Rasulullah tidak menyalahkan salah satu di antara mereka.

Di situlah kita belajar, bukan sibuk membenarkan diri, tetapi meluruskan hati. Sebab hakikat puasa bukan hanya menahan lapar, namun menahan ego. Jika perbedaan membuat kita mudah mencela, mungkin yang perlu dihisab bukan hilalnya, melainkan hatinya.

Ramadhan datang untuk menyatukan kita dalam takwa. Pribadi takwa mudah tumbuh di hati hamba yang lapang.

#Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1447 H.

Tulisan Lainnya