Ngerem Jempol Jelang Buka: Isu Kenaikan Pajak Kendaraan Jateng dan Jurus Tabayun Era Digital

Pasangan suami istri sedang mengecek kebenaran pesan berantai di HP saat buka puasa sebagai bentuk tabayun menangkal hoaks isu kenaikan pajak kendaraan Jateng.
Saring sebelum sharing. Biasakan bertabayun saat menerima pesan berantai yang memancing emosi, seperti isu hoaks kenaikan pajak kendaraan. Jangan sampai pahala puasa batal gara-gara jempol grusa-grusu.

Sore ini, pas azan Magrib baru aja berkumandang dan aku baru gigit kurma sebiji buat ngebatilin puasa, istriku sudah nyodorin layar HP.

“Yah, ini beneran toh? Katanya ada kebijakan pemerintah soal kenaikan pajak kendaraan Jateng yang gila-gilaan? Sampai ada seruan stop bayar pajak serentak lho di grup WhatsApp!”

Aku nyeruput teh anget pelan-pelan, lalu mesem. Jujur saja, sebagai kepala keluarga dan bagian dari masyarakat biasa, aku sangat paham keresahan emak-emak dan bapak-bapak se-Jawa Tengah. Ekonomi memang lagi nggak gampang.

Harga kebutuhan pokok merangkak naik, biaya sekolah anak nunggu di depan mata, apalagi persiapan jelang Lebaran. Wajar kalau dengar isu kenaikan pajak kendaraan Jateng mau naik tak masuk akal, warga langsung senam jantung. Keresahan itu valid dan sangat manusiawi.

Tapi aku bilang ke istriku, “Dah, batalin puasa sik, mendoannya dimaem, liyane pikir keri. Kita boleh kritis, tapi jangan gampang kepancing emosi buat hal yang belum jelas juntrungannya.”

Lini masa medsos kita belakangan ini memang panasnya ngalahin cuaca siang bolong di bulan puasa. Isu kenaikan pajak kendaraan Jawa Tengah ini lagi asyik-asyiknya digoreng sampai krispi. Padahal, kebenarannya saja belum tentu valid, apalagi sampai ada ajakan boikot serentak.

Orkestrasi Hoaks Kebijakan Pemerintah: Jangan Mau Jadi Bidak Catur!

Fenomena kekinian ini jian luar biasa. Semua orang bebas beropini, dan hebatnya, seolah semua merasa paling benar. Banyak yang menunggangi keresahan ekonomi warga dengan bikin framing negatif bertameng: “Ini kan check and balancing, Bro! Mengkritik kebijakan pemerintah!”

Ya, ngritik pemerintah itu penting, sah, dan bahkan wajib kalau arahnya melenceng. Tapi kalau bahan kritiknya dari info bodong atau potongan gambar yang diplintir, itu namanya bukan check and balance, tapi ngajak ribut berjamaah pas lagi puasa. Pahala melayang, dosa nambah.

Ngomong-ngomong soal framing, dalam ilmu komunikasi politik ada satu kaidah mengerikan dari Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di era Hitler. Dia pernah mencetuskan prinsip: “Kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus dan sistematis, pada akhirnya akan diyakini sebagai kebenaran.” Di dunia psikologi modern, ini disebut Illusory Truth Effect (Efek Ilusi Kebenaran).

Teori lawas Goebbels ini makin subur kalau sudah masuk mesin orkestrasi berbagai kepentingan hari ini—mulai dari syahwat oposisi politik, rivalitas ekonomi, sampai yang paling malesin, bawa-bawa sentimen agama. Kita yang lagi pusing mikir dapur ini gampang banget dibikin emosi, lalu tanpa sadar memencet tombol Share. Jangan mau cuma jadi bidak catur kepentingan elite, Lur.

Berkaca dari Haditsul Ifki: Waspada “Abdullah bin Ubay” di Era Medsos

Kalau kita mau sejenak buka-buka sejarah (Sirah), umat Islam itu pernah kena mental parah gara-gara urusan hoaks. Peristiwanya ngetren dengan sebutan Haditsul Ifki (Berita Bohong). Waktu itu, ibunda Aisyah r.a.—istri Rasulullah yang luar biasa suci itu—difitnah melakukan hal keji.

Kira-kira siapa dalang orkestrasinya? Abdullah bin Ubay, sang gembong munafik tulen. Dia itu pintar, ibarat Goebbels-nya zaman Jahiliyah. Dia nggak nyerang terang-terangan, tapi dia melempar narasi, merangkai gosip, dan membiarkan masyarakat yang malas mikir (dan hobi ghibah) untuk menyebarkannya dari mulut ke mulut. Madinah kacau balau berbulan-bulan, sampai akhirnya Allah SWT sendiri yang turun tangan lewat wahyu untuk membersihkan nama Aisyah.

Ibrah-nya jelas banget buat kita. Di era medsos ini, “Abdullah bin Ubay” itu nggak mati. Dia bereinkarnasi jadi akun anonim, buzzer provokatif, dan pembuat konten clickbait. Mereka yang bikin aransemen hoaksnya, eh kita-kita ini yang jadi paduan suara nyebarinnya secara gratis. Kan rugi bandar!

Jurus Tabayun Era Digital ala Al-Hujurat Ayat 6 demi Keadilan Informasi

Makanya, buat ngadepin bisingnya zaman now, kita butuh banget yang namanya Keadilan Informasi. Jangan sampai kita menzalimi pihak lain atau merusak ketertiban umum gara-gara jempol kita yang grusa-grusu. Di sinilah Allah SWT ngasih rumus jitu lewat Surat Al-Hujurat ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayun), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal…”

Tafsir ayat ini tegas. Fatabayyanu! Periksa teliti! Kalau dapet info yang bikin urat leher tegang, wajib diverifikasi. Jangan sampai kita menimpakan “musibah” (berupa fitnah, kegaduhan, atau boikot buta) karena kita nggak tahu duduk perkaranya. Ujung-ujungnya? Cuma nyesel dan hapus postingan sambil nulis status klarifikasi minta maaf. Basi.

Ngerem Jempol Hadapi Isu Kenaikan Pajak Kendaraan Jateng

Terus, praktiknya penegakan tabayun di era digital gimana? Sederhana saja, nggak usah heboh, jadilah seperti striker legendaris AC Milan, Filippo “Pippo” Inzaghi. Nggak perlu banyak gocek, nggak perlu lari paling kenceng buat kelihatan keren. Pippo itu mainnya efisien; tenang, lihat posisi lawan, hindari jebakan offside, pas ada peluang matang, baru eksekusi.

Jaga Posisi (Offside Check): Saat dapet info panas, saring sebelum sharing. Tahan jempol. Beneran ada landasan resmi soal kenaikan pajak kendaraan Jawa Tengah nggak? Atau cuma broadcast hoaks dari entah berantah yang sengaja dibikin buat ngerusuh?

Jangan Mudah Tersenggol Emosi: Begitu baca narasi yang sengaja mancing amarah di saat kantong lagi tipis, senyumin aja. Jangan mau emosimu dijajah sama algoritma medsos. Sayang puasanya.

Fokus Cetak Gol (Karya Asli): Daripada habis energi ngurusin hoaks, mending fokus kerja, cari rezeki halal, dan berkontribusi di lingkungan nyata.

Perempuan-perempuan hebat di luar sana—seperti istriku dan ibu-ibu lainnya—tetap tangguh merawat keluarga dan nyiapin buka puasa meski harga-harga naik dan dunia medsos mau kiamat sekalipun. Masa kita yang ngakunya peduli bangsa malah gampang terombang-ambing isu abal-abal?

Sudah, mending sekarang habisin es tehnya, siap-siap berangkat tarawih ke masjid, dan tetap jalani hidup dengan optimis.

Kalau memang nanti terbukti ada kebijakan pemerintah soal pajak yang memberatkan rakyat secara resmi, PKS dan kita semua pasti akan berdiri paling depan untuk mengkritisinya dengan elegan, beradab, dan pakai data. Tapi kalau cuma hoaks tak bertuan, mending simpan energi buat tilawah.

Tabayun adalah kunci. Jempolmu, harimaumu!

Tulisan Lainnya