Spanyol, Bukti Kemenangan Mutlak Siklus Regenerasi

Foto lawas Lionel Messi muda memandikan bayi Lamine Yamal di dalam baskom biru, momen yang kembali viral menyusul hasil final piala dunia sebagai simbol regenerasi sepak bola.
SIKLUS REGENERASI: Foto dokumentasi lawas tahun 2007 yang memperlihatkan Lionel Messi memandikan bayi Lamine Yamal (5 bulan) dalam sesi pemotretan kalender amal UNICEF di Camp Nou. Potret ini kembali viral dan disebut sebagai takdir siklus sepak bola menyusul hasil final piala dunia, di mana skuad muda Spanyol sukses mengalahkan tim senior Argentina.

Subuh tadi, jagat sepak bola seolah diguncang gempa magnitudo tinggi. Laga penentuan hasil final piala dunia menyajikan tontonan super epik ketika barisan anak muda Spanyol sukses memaksa skuad senior Argentina ngos-ngosan sampai babak perpanjangan waktu.

Tak hanya soal kemenangan tipis Spanyol saja yang jadi sorotan, perhatian publik juga banyak tertuju pada sebuah foto lawas yang kini dianggap sebagai “takdir sepak bola yang luar biasa”. Sebuah momen “siklus penuh” yang bikin merinding.

Jepretan hampir dua dekade lalu (tahun 2007) itu memperlihatkan Lionel Messi muda yang masih gondrong, tengah memandikan seorang bayi berusia lima bulan di baskom biru dalam sesi pemotretan kalender amal UNICEF di Camp Nou. Ndilalah, bayi montok bersabun itu adalah Lamine Yamal, bintang timnas Spanyol!

Siapa sangka, bocah yang dulu dimandikannya itu, subuh tadi justru menjadi hantu yang memorak-porandakan pertahanan sang maestro.

Rentetan kebetulan ini pancen bikin akal sehat lumayan ngelu. Bayangkan saja, 19 tahun yang lalu, Messi muda berpose dengan bayi Yamal saat dirinya sendiri dulu masih sering memakai jersey nomor 19 di Barcelona. Kini, Yamal yang genap berusia 19 tahun, bermain di partai final piala dunia tepat pada tanggal 19 Juli, dan juga mengenakan jersey nomor 19!

Apakah ini murni kebetulan atau takdir peradaban yang sedang terungkap? Atau jangan-jangan programmer simulasi kehidupan ini lagi malas ngacak angka? Skenario semesta itu kadang memang lebih nggilani dari film fiksi manapun.

Semalam suntuk, magisnya takdir sepak bola itu tersaji langsung di pelataran kantor DPW PKS Jateng. Layar tancap besar menyorotkan drama perpanjangan waktu yang bikin jantung serasa mau copot. Tapi, tepat di tengah puncak adrenalin saat kedua tim masih buntu di paruh pertama extra time, kumandang azan Subuh dari Masjid At Taqwa di seberang jalan terdengar lantang. Ratusan pasang mata yang tadinya tersihir bola, mendadak kompak berdiri.

Kopi, kacang, dan camilan ditinggal begitu saja. Kami berduyun-duyun menyeberang jalan, merapatkan saf, menunaikan sujud. Seseru apa pun urusan bumi, panggilan langit tetaplah prioritas yang pantang ditawar. Begitu imam selesai salam, barulah kita lari sat-set rebutan posisi di atas tikar lagi!

Energi Muda Spanyol Mendikte Skuad Gaek

Begitu peluit panjang ditiup, bacaan atas hasil final piala dunia ini menyisakan satu kesimpulan telak: ini eranya darah muda! Spanyol berani turun gelanggang dengan line-up utama yang sangat segar. Mereka mengandalkan Lamine Yamal yang baru berusia 19 tahun, bek potensial Pau Cubarsí (19), hingga sang jenderal lapangan tengah Pedri (23). Anak-anak ini ibarat mesin motor baru yang baru turun dari dealer, tenaganya ora umum.

Bandingkan dengan skuad Argentina yang rata-rata usianya jauh lebih berumur. Sang legenda Lionel Messi sudah menginjak 39 tahun, disusul bek gaek Nicolas Otamendi (38) dan juga kiper Emiliano Martinez (33).

Secara skill dan mental, deretan pemain senior ini jelas masih level dewa. Tapi melawan bocah-bocah belasan tahun yang nafasnya panjang tak ada habisnya, fisik pancen tak bisa bohong. Di atas langit masih ada langit. Dan di tiap masa pasti ada orangnya.

Laporan statistik hasil hasil final piala dunia Subuh tadi menjadi bukti paling brutal. Spanyol benar-benar mendikte permainan dengan penguasaan bola mencapai 68 persen. Anak-anak muda asuhan Luis de la Fuente ini sukses melakukan 803 operan dengan akurasi mencapai 90 persen.

Sementara itu, skuad gaek Argentina hanya sanggup membalas dengan 445 operan (akurasi 78 persen). Lha piye, bisa dibayangkan capeknya Messi dan kawan-kawan disuruh lari-lari mengejar bola tiki-taka ala anak muda ini sampai perpanjangan waktu?

Lebih sadis lagi kalau melihat daya gedor mereka. Skuad La Furia Roja memberondong pertahanan lawan dengan 20 tembakan, di mana 11 di antaranya tepat sasaran ke arah gawang. Sebaliknya, Argentina cuma dikasih jatah 3 tembakan, dan ajaibnya, nol tembakan ke arah gawang! Pertandingan ini seolah cuma ajang para pemuda Spanyol latihan membombardir kiper Emiliano Martinez sendirian.

Merespons kelincahan itu, Argentina sampai frustrasi dan harus melakukan 24 pelanggaran (berbuah 5 kartu kuning dan 1 merah). Sangat kontras dengan Spanyol yang bermain rapi tanpa kartu sama sekali. Ini hukum alam. Fisik yang mulai menua pada akhirnya akan goyah menghadapi determinasi energi muda yang meledak-ledak.

Regenerasi Adalah Kunci

Sejarah pada akhirnya selalu berulang. Kita ingat Jerman di 2014 sangat berjaya dan juara, tapi karena telat regenerasi, mereka menua dan hancur lebur gugur di fase grup pada 2018 dan 2022. Sebaliknya, Perancis juara di 2018 justru karena berani membawa Kylian Mbappe yang saat itu masih 19 tahun, Benjamin Pavard 22 tahun, dan Ousmane Dembele yang baru 21 tahun.

Di lembar sirah Nabawiyah pun plek ketiplek. Rasulullah SAW pernah menunjuk pemuda belasan tahun, Usamah bin Zaid, menjadi panglima perang memimpin para sahabat senior sekelas Abu Bakar dan Umar.

Filosofi bola, angka 19, dan catatan akhir hasil final piala dunia ini sebenarnya sangat relate dengan urusan mengurus organisasi, partai, maupun negara. Kalau mau terus juara dan nyambung sama peradaban, kita harus ikhlas dan berani ngasih panggung estafet buat anak muda.

Masak iya kita rela kalau pimpinan republik ini nanti usianya kakek-kakek yang jalan saja butuh dipapah, wk wk wk. Menghormati pitutur senior itu akhlak wajib, tapi regenerasi adalah kunci kemenangan.

Keberanian mengambil langkah regenerasi memang butuh kebesaran jiwa. Tapi hal itu mutlak dieksekusi agar bangsa ini larinya bisa sekencang Lamine Yamal di lapangan hijau.

Wis, sing penting niat apik, mlaku terus bismillah! Dengan kombinasi energi anak muda dan kebijaksanaan para senior, insyaAllah selalu ada keajaiban baru untuk negeri ini.

Tulisan Lainnya