Jadilah Kitab Walau Tanpa Judul
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti sebuah bangunan yang kokoh.” (Q.S. Ash Shaff: 4)
Ibnu Katsir menyampaikan bahwa ayat tersebut Adalah bukti cinta Allah pada keteraturan, pada kesungguhan, pada barisan yang tidak hanya tegak di tubuh, tapi juga kokoh di hati. Shaff itu bukan sekadar baris rapat di lapangan, tapi sebuah keterikatan jiwa yang tak memberi celah bagi keretakan.
Sementara Sayyid Qutb memandang ayat ini dengan sudut pergerakan. Ia melihat barisan itu seperti pasukan yang disatukan bukan oleh jumlah, tapi oleh cita. Mereka melangkah bersama, satu komando, satu irama. Tidak ada yang berjalan lebih cepat, tidak ada yang tertinggal, tak ada yang membelok sendiri. Itulah rahasia kekuatan yang tak mudah diterpa badai.
Ikhwah fillah…
Kita kini sedang berada di sebuah masa transisi amanah struktural. Ada di antara kita yang sedang diberi “sampur” untuk memimpin barisan. Ada pula yang amanahnya sudah usai, yang tak lagi duduk di struktur, tak lagi menempati posisi, tak lagi memegang jabatan.
Ya, sebagian kita kini tak lagi punya judul kitab (jabatan struktural).
Tapi, adakah kitab tanpa judul itu kehilangan makna? Tidak, saudaraku. Justru sering kali, kitab yang tanpa sampul itulah yang paling jernih isinya. Lembar-lembar kehidupan yang tetap relevan untuk dibaca, meski tak lagi dipajang di rak teratas. Kitab yang tak menuntut dikenali, tapi selalu memberi arti.
Bisa jadi kita tak lagi menyusun strategi di meja rapat. Tak lagi berdiri di mimbar memberi pengarahan. Tetapi di balik layar, ada peran yang justru lebih halus, lebih lembut, lebih dalam maknanya; menjadi penopang, menjadi penguat, menjadi pelantun doa yang tak putus, menjadi bisikan bijak yang menuntun langkah.
Seperti pesan luhur yang layak untuk terus diwariskan, “Tut Wuri Handayani.” Berdiri di belakang, tapi selalu mendorong. Tak terlihat di depan, tapi memastikan yang muda tetap lurus jalannya, kokoh pijakannya.
Seorang sahabat mulia, Anas bin an-Nadhr pernah absen dari Perang Badar, dan hatinya sangat menyesal. Lalu ia bertekad, jika ada kesempatan lain, ia ingin menebusnya. Benar saja, di Perang Uhud ia datang tanpa panggilan resmi, tanpa posisi, tanpa nama yang dicatat di daftar pasukan. Tapi ia maju dengan penuh semangat, hingga syahid, tubuhnya tak lagi dikenali selain dari jari-jemarinya.
Bukankah itu kitab tanpa judul, Allah Swt sendiri yang membacanya? Bukan gelar yang dikenang, bukan jabatan yang ditinggalkan, tapi kesetiaan dan pengorbanan yang dicatat langit.
Imam Abu Hanifah menolak jabatan qadhi (hakim) yang ditawarkan khalifah. Beliau tidak mundur dari perjuangan. Beliau memilih sebuah peran strategis meski tanpa judul. Beliau membangun barisan dakwah dengan melahirkan generasi penerus dan menulis kitab-kitab yang hingga kini menjadi penerang dunia Islam. Beliau tanpa judul jabatan, tapi terus berkontribusi nyata.
Sebuah bangunan besar tidak hanya ditopang oleh dinding luar yang tampak gagah dan indah. Ada pondasi yang tertanam jauh di tanah, tak pernah terlihat mata, tapi tanpanya seluruh bangunan itu akan runtuh. Itulah peran strategis para kader senior yang telah purna dari amanah struktural. Diam-diam menopang, senyap-senyap menguatkan. Tut wuri handayani. Tetap setia dalam barisan yang kokoh.
Da’i sejati tak butuh judul untuk tetap bermakna. Cukuplah Allah Swt yang membaca lembar-lembar amalnya. Dan cukuplah cinta-Nya yang menjadi penutup segala cita, karena kita memilih tetap terus berkarya, meskipun tanpa jabatan apa pun.