Jangan Kasih Setir ke Supir Ugal-ugalan: Cara Memilih Pemimpin ala Al-Fatih
Sore itu, sambil nyeruput kopi jahe di teras sempit gang Pedurungan, istriku tiba-tiba nyeletuk. Dokter anak yang juga merangkap ‘ras terkuat’ di rumah ini baru saja maca berita soal kasus korupsi terbaru yang lagi viral. Lha dalah, ada oknum pejabat bikin ‘safe house’ alias rumah rahasia cuma buat nimbun koper-koper isi duit tunai miliaran rupiah!
Jujur, aku ya ikut ngelus dada bareng kalian semua melihat kelakuan kemaruk (rakus) begini. Rumangsane duit triliunan di dalam koper itu besok bisa buat nyogok Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur? Jelas nggak tho.
Fenomena pemimpin korup ini bener-bener bikin kita sebagai rakyat kecil kembang kempis dan lelah jiwa raga. Wajar banget kalau sekarang kita semua makin mumet mikirin cara memilih pemimpin yang waras dan amanah.
Kita tentu belum lupa memori kelam soal korupsi bansos pas kita semua lagi megap-megap kelaparan dihajar pandemi. Bahkan, ada juga kasus wagu tentang pengadaan Al-Qur’an yang duitnya ikut digarong tanpa rasa berdosa. Mirisnya lagi, kelakuan nggragas ini rata dilakukan dari level menteri elit sampai oknum di kelurahan.
Namun, ojo dumeh dan jangan gampang menyalahkan agama atas musibah ini. Faktanya, deretan pesakitan KPK itu punya latar belakang keyakinan yang beraneka warna, mulai dari Islam, Kristen, Buddha, sampai Hindu. Singkatnya, kejahatan ini murni karena mental si pelaku yang bosok. Casing luarnya saja yang kinclong rajin ibadah, padahal dalemannya kosong melompong.
Nyopir Bis Malam dan Hisab Malaikat di Akhirat
Berangkat dari realita pait yang kita rasakan bareng-bareng itu, kita memang harus putar otak buat meracik ulang cara memilih pemimpin. Buat aku pribadi, sosok pemimpin publik itu ibarat supir bis malam rute Pantura. Sang supir wajib memiliki keseimbangan antara kecakapan dan spiritualitas saat memegang setir kemudi.
Sebab, kalau dia cuma pethitha-pethithi (sombong) pamer skill ngebut tapi ugal-ugalan, nyawa penumpang satu bis bisa bablas nyium aspal. Oleh sebab itu, urusan integritas pejabat tidak bisa kita sandarkan cuma dari manisnya janji kampanye. Rasulullah SAW sudah mewanti-wanti kita semua dengan sangat keras sedari dulu.
Mari kita resapi pelan-pelan pesan agung dari langit berikut ini:
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Aturan main ini sungguh mak jleb dan berlaku tanpa pandang bulu untuk siapa saja. Seorang pemimpin yang adil pasti dapet tiket VVIP masuk surga tanpa antre panjang. Sebaliknya, kalau dia nekat nyolong duit rakyat, dia bakal digeret paling depan menuju neraka. Makanya, hisab akhirat itu murni keadilan sejati, tidak bisa disogok pakai jasa pengacara semahal apa pun.
Nyari ‘CCTV Langit’ ala Al-Fatih di Zaman Now
Lalu, bagaimana sebenarnya takaran cara memilih pemimpin yang paling pas buat kita sekarang? Dulu, para sahabat nabi punya metode nyeleneh tapi manjur untuk mengukur isi hati seseorang. Mereka terbiasa mengecek kualitas ibadah rahasia para kandidat pemimpin di sepertiga malam terakhir.
Sebagai contoh keren, mari kita tengok bareng kisah heroik Sultan Muhammad Al-Fatih. Jenderal muda penakluk Konstantinopel ini pernah bikin keder pasukannya jelang shalat Jumat perdana. Beliau menantang siapa saja yang sejak baligh tidak pernah bolong shalat wajib, rawatib, dan tahajjud untuk maju menjadi imam.
Ndilalah, tebak bagaimana hasil akhirnya? Ternyata, cuma Al-Fatih seorang yang berani maju tanpa ragu! Rahasia kehebatan pemuda ini ada pada Muraqabah, yaitu kesadaran penuh bahwa Gusti Allah selalu memantau gerak-geriknya. Kalau seseorang sudah punya “CCTV langit” di hatinya, disodorkan koper miliaran pun dia pasti emoh dan merinding ketakutan.
Jadi, buat njenengan dan aku sendiri yang lagi lelah melihat polah pemimpin korup, mari kita ngopi sik ben ra panik. Wis ta, kita mulai saja perbaikan bangsa ini dari meja makan rumah kita sendiri. Didiklah anak-anak kita dengan tauhid yang kuat, dan jangan lupa muliakan istri yang selalu menjaga kewarasan keluarga.
Kelak saat momentum pemilihan tiba, mari kita terapkan cara memilih pemimpin dengan nalar dan iman. Cek adab kandidatnya, lalu pastikan dia benar-benar punya rasa takut pada Tuhannya.
Akhir kata, tetaplah sumeleh, rileks, dan selalu optimis merawat Ibu Pertiwi. Gusti mboten sare, lur!
Baca juga: