Apa Mungkin Lailatul Qadr 2026 Turun Dua Kali Gegara Beda Awal Puasa?
Beberapa hari ini, handphone saya rasanya rame banget. Rentetan notifikasi dari berbagai grup WA tak henti berdenting saling bersahutan. Mulai dari grup pos ronda Pedurungan sampai grup diskusi partai, semua sibuk membahas jadwal iktikaf. Pokoknya, linimasa sedang gaduh luar biasa mengupas persiapan menyambut Lailatul Qadr 2026.
Akar masalahnya sangat klasik dan sering berulang di negeri kita. Kita kembali menghadapi realita beda awal Ramadhan tahun ini. Keluarga besar persyarikatan sudah mantap mengawali puasa pada hari Rabu, 18 Februari. Mereka berpijak teguh pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang sangat presisi dan terukur.
Sementara itu, saudara kita di NU dan pemerintah menetapkan awal Ramadhan pada hari Kamis, 19 Februari. Akibatnya, umat di bawah pusing berjamaah. Mereka kebingungan menghitung kapan persisnya malam ganjil penentu kedatangan Lailatul Qadr 2026 itu tiba.
Tensi Grup WA dan Pesan Tabayun
Di tengah panasnya perdebatan grup WA, tiba-tiba muncul satu celetukan konyol. “Mas, kalau puasanya selisih, Lailatul Qadr 2026 turun di malam ganjil versi Rabu atau Kamis?” Pertanyaan polos ini sungguh mak jleb. Logika nakalnya begini, mungkinkah malam mulia itu turun dua kali dalam sebulan untuk memfasilitasi dua kalender berbeda?
Sayangnya, candaan ini sering digoreng menjadi bahan saling sindir di media sosial. Fenomena saling ejek soal kalender ini sangat tidak elok. Orang Jawa punya pepatah pas, golek bener malah keblinger. Kita terlalu asyik mencari pembenaran sampai akhirnya tersesat sendiri.
Oleh karena itu, kita wajib ekstra berhati-hati saat menelan opini publik. Allah SWT telah mengingatkan kita tentang pentingnya tabayun dalam Surat Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Bahkan, kita bisa menarik pelajaran berharga dari kelicikan Abdullah bin Ubay dalam sejarah Haditsul Ifki. Saat ini, oknum provokator sering meniru gaya tersebut untuk merusak ukhuwah lewat isu beda kalender. Padahal, perbedaan metode hisab maupun rukyat itu wajar belaka, ojo kagetan.
Taktik Striker: Menjaring Lailatul Qadr 2026
Lalu, bagaimana kita menjawab kebingungan ganjil versi Rabu atau Kamis tersebut? Kesimpulan paling mutlaknya adalah wallahu a’lam bishawab, tidak ada satu pun manusia yang tahu. Secara ketetapan syariat, kemuliaan lailatul qadar itu murni hanya turun satu kali saja. Waktu pasti kedatangannya sepenuhnya menjadi rahasia mutlak Allah SWT.
Karena wujudnya adalah rahasia, kita harus cerdas meniru mentalitas striker sepak bola berkelas. Striker mumpuni tidak perlu pamer skill lari ke sana kemari. Mereka cukup mencari posisi paling strategis untuk mengeksekusi peluang emas.
Maka, taktik paling logis adalah “menjaring” kemuliaan tersebut secara paripurna. Cara menjaringnya yaitu dengan meningkatkan intensitas ibadah dan iktikaf secara full di seluruh 10 hari terakhir Ramadhan. Taktik jitu ini sudah dicontohkan secara sempurna oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadr pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).
Kenali Tanda Alam dan Gas Terus Amalannya!
Agar jaring spiritual kita makin kuat, mari kita kenali tanda-tanda alamnya. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma merekam deskripsi Kanjeng Nabi tentang fenomena turunnya malaikat:
لَيْلَةُ القَدْرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ لَا حَارَّةٌ وَلَا بَارِدَةٌ تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيحَتَهَا ضَعِيفَةً حَمْرَاءَ
“Lailatul Qadr adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thayalisi dan Al Baihaqi).
Coba bayangkan suasana pagi yang sejuk di kawasan Pedurungan Semarang tercinta. Angin bertiup sangat tenang dan matahari bersinar lembut tanpa menyengat. Hati rasanya ayem tenteram tanpa beban hidup. Momen magis inilah yang sedang kita intip bersama pada fase pamungkas Lailatul Qadr 2026.
Sebagai penutup, mari kita sudahi debat kalender yang melelahkan ini. Solusi paling jitu adalah jangan hanya membatasi pencarian ibadah pada malam ganjil saja. Sebaliknya, kita wajib meningkatkan intensitas amal saleh setiap malam menjelang turunnya Lailatul Qadr 2026.
Matikan notifikasi grup WA yang gaduh itu sejenak. Segera melangkah keluar rumah dan ramaikan masjid terdekat di lingkungan Anda. Gas terus amalannya dengan hati lapang tanpa beban kalender. InsyaAllah, tiket kemuliaan seribu bulan akan aman terjaring di tangan kita.
Baca juga:
Jangan Kasih Setir ke Supir Ugal-ugalan: Cara Memilih Pemimpin ala Al-Fatih