Bencana Alam Nggak Butuh GPS: Ayo Sat-Set Wat-Wet Wujudkan Peduli Lingkungan!

Sekelompok anak muda bergotong royong membersihkan selokan dari tumpukan sampah sebagai aksi nyata peduli lingkungan mencegah bencana alam banjir.
Daripada cuma nggresula soal cuaca ekstrem dan banjir, barisan anak muda ini langsung sat-set wat-wet mewujudkan aksi peduli lingkungan membersihkan selokan kampung.

Sore ini, awan hitam sungguh tebal menutup langit. Aku mengajak istri berkeliling mencari takjil lumayan jauh. Kami sengaja berburu es buah viral pinggiran kota.

Tiba-tiba, genangan air cokelat menghadang ban motor kami. Padahal, daerah rawan banjir ini memang sering lumpuh. Istriku langsung menepuk pundakku dari kursi boncengan belakang.

“Yah, dalane kene jian persis kolam renang butek,” keluhnya gemas.

Selanjutnya, dia menunjuk tumpukan sampah plastik yang mengambang bebas.

Tentu saja, aku mengangguk setuju sambil menyeimbangkan motor.

Jujur saja, aku sangat memahami omelan keras istriku. Apalagi, cuaca ekstrem memang rajin memicu genangan air. Memang, para bos pabrik raksasa itu sangat maruk. Mereka mengabaikan urusan peduli lingkungan demi mengeruk cuan ugal-ugalan.

Penyakit acuh Tak Acuh Kolektif: Kurang Wangun Kalau Cuma Nunjuk Orang!

Tapi, kita kurang wangun kalau cuma menyalahkan korporat nakal. Faktanya, masyarakat kita sendiri masih malas mewujudkan aksi peduli lingkungan. Kita sering memelihara penyakit tak acuh ini secara berjamaah.

Coba tengok kelakuan warga sekitar lingkungan kita. Masih banyak orang yang dengan santai membuang sampah ke aliran sungai. Bahkan, mereka rungan saja melempar tisu, bungkus plastik atau bahan residu lainnya dari jendela kendaraan.

Sementara itu, warga lain memilih meneng saja melihatnya. Apa mereka kira sungai dan jalanan itu tong sampah pribadinya ya? Ujung-ujungnya, kita pasti akan memanen hasil kerusakan lingkungan ini bersama-sama.

Jalanan macet total gara-gara air bah merendam akses utama. Padahal, petaka ini banyak bermula dari kebiasaan sembrono kita.

Sebenarnya, rumus kehidupan sosial ini sungguh sangat gampang kok.
Kalau kita nongkrong bersama bakul parfum, kita ikut wangi. Sebaliknya, teman pandai besi pasti sering terkena percikan api.

Makanya, bayangkan hidup bersama warga yang hobinya jorok. Mata kita pasti akrab melihat gunungan kresek tiap pagi.

Akibatnya, kita perlahan mengundang dampak perubahan iklim yang mengerikan. Jadi, kita wajib membuang jauh-jauh sikap acuh tak acuh ini dari sekarang.

Bencana Tidak Butuh GPS: Tafsir Surat Al-Anfal Ayat 25

Sekarang, mari kita merenung sebentar mencari jalan tikus. Daripada kita terus nggresula, mending kita segera melakukan introspeksi.

Mari kita membuka dan membaca Surat Al-Anfal ayat 25.

وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

Allah tegas menyuruh kita mewaspadai ancaman musibah merata. Siksaan alam itu tidak cuma menghajar para penjahat saja.

Apakah kita benar-benar sudah mencerna makna ayat peringatan ini?

Faktanya, musibah bencana alam memang tidak butuh fitur GPS. Air banjir butek tidak akan membelok menghindari halaman masjid. Bahkan, air keruh itu tetap asyik merendam rumah Pak Ustaz.

Termasuk juga, air bah bakal menerjang rumah Pak RT dan Pak Hansip. Selama para tokoh masyarakat ini sering meneng melihat perusakan sekitarnya. Mereka malas menegur warga yang merusak daerah resapan air.

Selama sikap acuh tak acuh ini ada, kerusakan akan terus terjadi. Tentu saja, pahala ritual ibadah puasa kita sangatlah luar biasa. Tapi, kesalehan sosial urusan pelestarian alam juga harga mati.

Jangan sampai keegoisan kita justru mengundang sentilan pedas langit. Makanya, kita harus segera berbenah dan memperbaiki kelakuan diri.

Sat-Set Wat-Wet: Jurus Anak Muda Merawat Alam Kita

Terus, kita harus mengambil langkah apa mulai detik ini?

Pastinya, kita wajib segera membuktikan aksi nyata merawat bumi. Kita tidak usah ribet menyusun teori memakai bahasa dewa.

Sebenarnya, kita cukup memakai mentalitas lincah anak muda sekarang. Kita wajib bertindak sat-set wat-wet mengeksekusi kebaikan secara langsung. Kita harus langsung bergerak berbuat baik tanpa kelamaan mikir.

Misalnya, kita wajib membawa tote bag saat mencari takjil. Langkah sepele ini pasti menekan tumpukan sampah plastik jalanan.

Selain itu, kita harus berani menegur pembuang sampah sembarangan.

Para istri selalu tangguh mengurus keluarga tercinta setiap hari. Mereka rajin menyiapkan menu berbuka walau alam sedang mengamuk. Masa kita kalah tangguh sekadarh menjaga kebersihan kota sendiri?

Akhirnya, suara azan Magrib memecah kesunyian di udara. Mari kita segera batalkan puasa dan tancap gas ke masjid.

Tetaplah optimis menikmati rutinitas hidup dan memperbanyak kebaikan nyata.

Pabrik maruk memang wajib kita sentil lewat jalur resmi. Tapi, kita juga wajib membuktikan aksi peduli lingkungan segera.

Yuk, mari kita sat-set menyelamatkan bumi sekarang juga!

Baca juga:

Kearifan Lokal di Era Digital: Kunci Gaya Hidup Berkelanjutan

Tulisan Lainnya