Bojo Galak dan Ketahanan Keluarga, Cara Ibu Menyelamatkan Dunia

Wanita Muslim dengan Ulekan tradisional dan Smartphone Menampilkan Kata "HOAX"
TANTANGAN DIGITAL DALAM DOMESTIK: Di tengah kehidupan sehari-hari, seorang ibu rumah tangga di Indonesia harus menghadapi tantangan baru: penyebaran berita palsu (hoaks) melalui ponsel pintar. Gambar ini melambangkan bagaimana teknologi modern dan masalah informasi merasuk ke dalam kehidupan domestik yang penuh tradisi. [Ilustrasi AI)

Sore itu, aku sedang duduk santai di gang sempit Pedurungan, Semarang Timur. Aku baru saja menyeruput kopi klotok yang hangat. Tak lama kemudian, istriku pulang praktik dengan wajah cemberut.

Sebagai dokter spesialis anak, dia ternyata sangat kelelahan. Seharian dia meladeni pasien anak yang mengalami tantrum parah akibat larangan main gadget. Padahal, masalah tantrum gadget ini sangat memengaruhi fondasi ketahanan keluarga.

Sementara itu, banyak ibu-ibu di ruang tunggu juga tampak stres. Mereka termakan berita hoaks medsos. Isu sliweran soal kebijakan pemerintah dan provokasi politik memanas di grup WhatsApp keluarga.

Bahkan, narasi sentimen agama ikut memperkeruh suasana. Dunia kita memang sedang bising, Lur. Netizen ribut, elit politik kadang kemlinthi (sok pintar), dan emak-emak pun ikutan panik.

Kalau kondisinya sudah begini, bapak-bapak mending menyingkir mencari aman. Laki-laki kelihatannya saja garang di luar rumah bak singa podium. Tapi giliran pulang, nyali singa itu langsung ciut.

Apalagi saat dia membuka pintu lalu melihat istri membawa ulekan sambil mengomel. “Bi, ini struk belanjaan apa kok ada kopi-kopi mahal?!” bentaknya. Wah, singa itu seketika berubah jadi kucing anggora. Nggih nopo nggih?

Fenomena krisis ketahanan keluarga hari ini memang bukan isapan jempol belaka. Coba kita tengok data BPS Jawa Tengah terbaru. Angka perceraian menembus hampir 65 ribu kasus dalam setahun!

Daerah seperti Cilacap, Brebes, dan Banyumas menjadi penyumbang tertinggi. Tentu saja, ini bukan cuma deretan statistik kering. Angka tersebut menjadi alarm merah bagi kita semua.

Rumah tangga bisa hancur gara-gara urusan perut dan gengsi media sosial. Selain itu, beda paham soal cara mengatasi kecanduan gadget pada anak sering berujung pada pertengkaran yang melelahkan.

Tabayun: Literasi Digital Hadapi Narasi Provokatif

Belum lagi, gempuran info sliweran dari barisan sakit hati terus memprovokasi keadaan. Di sinilah kita sangat membutuhkan rem cakram.

Sebenarnya, Gusti Allah sudah membekali kita panduan literasi digital paling mutakhir sejak 14 abad lalu. Kita wajib memakai ilmu tabayun agar ketahanan keluarga tidak gampang goyah karena hoaks.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Oleh karena itu, jangan sampai piring terbang melayang di rumah tangga. Kita juga tidak boleh suudzon buta terhadap kebijakan pemerintah cuma gara-gara sembarangan menekan tombol share.

Kita memang boleh menyentil kebijakan pemerintah. Kita juga wajib melakukan evaluasi berkesinambungan. Tapi, lakukanlah semua itu dengan elegan. Jangan sampai kita membakar lumbung sendiri.

Peran Perempuan Masa Kini sebagai Gelandang Peradaban

Mari kita kembali pada obrolan dengan istriku tadi. Kita harus sepakat bahwa perempuan adalah ras terkuat di bumi. Peran perempuan masa kini ibarat holding midfielder atau gelandang jangkar di lapangan sepak bola.

Kelihatannya dia cuma wara-wiri di tengah dan jarang mendapat sorotan kamera. Namun, dialah yang mengatur ritme serangan dan pertahanan. Striker memang boleh memamerkan golnya. Tapi, tim pasti hancur lebur tanpa kehadiran gelandang tangguh.

Coba kita lihat sejarah peradaban Islam. Siapa yang menjadi support system Nabi Muhammad SAW waktu beliau turun menggigil dari Gua Hira? Jawabannya adalah Siti Khadijah.

Beliau menenangkan Sang Nabi dengan pendekatan psikologi tingkat tinggi. Selanjutnya, ada Asiyah binti Muzahim. Dia bahkan mampu mendidik Nabi Musa di tengah istana Firaun yang sangat toksik.

Kalau kita mencari contoh kekinian yang riil, lihatlah gerakan “Sekolah Kami” di lapak pemulung Bintara Jaya, Bekasi. Awalnya pada tahun 2001, dr. Irina Among Pradja cuma berkumpul dengan lima sampai sepuluh ibu-ibu.

Mereka sangat memprihatinkan nasib pendidikan anak-anak kaum dhuafa. Mereka bergerak dengan modal nekat, dan Alhamdulillah hasilnya luar biasa. Prinsip mereka sederhana: Mlaku sik, liyane pikir keri (Jalan dulu, yang lain pikir belakangan).

Ujung dari kenekatan ibu-ibu ini sungguh “mengerikan”. Mereka konsisten melakukan advokasi sampai berhasil memaksa negara mengubah regulasi! Akhirnya, pemerintah merelaksasi aturan kependudukan. Jutaan anak marjinal tanpa buku nikah orang tua kini bisa mendapatkan NIK, Akta Kelahiran, dan sekolah resmi.

Mengubah Wajah Dunia dengan Menguatkan Ketahanan Keluarga

Masih merasa kurang bukti? Mari kita melangkah agak jauh ke Benua Afrika. Pada tahun 70-an, tanah di Kenya berubah tandus dan kerontang akibat deforestasi.

Menghadapi krisis ini, seorang wanita bernama Wangari Maathai mengumpulkan ibu-ibu desa untuk menanam pohon. Awalnya, bapak-bapak mengejek dan para politisi mencibir gerakan tersebut. Tapi, ibu-ibu tangguh ini bersikap cuek bebek.

Hasilnya? Gerakan Sabuk Hijau (Green Belt Movement) itu berhasil menanam lebih dari 51 juta pohon! Kenya pun kembali hijau dan gizi keluarga semakin membaik. Atas jasanya, Wangari Maathai meraih Penghargaan Nobel Perdamaian. Bayangkan, wajah dunia berubah hanya karena ibu-ibu mengomel sambil menanam bibit pohon!

Jadi, pesan penutup ini khusus buat teman-teman netizen, anak muda, atau bapak-bapak sekalian. Jika kalian sedang lelah menghadapi bisingnya lini masa dan panasnya suhu politik, kembalilah ke rumah.

Peluklah ibu atau istri kalian dengan hangat. Berikan mereka ruang seluas-luasnya untuk berdaya demi menjaga ketahanan keluarga. Membangun peradaban ternyata tidak selalu membutuhkan teriakan lantang di jalanan.

Kita bisa memulainya dari meja makan. Rangkullah keluarga dengan santai, dan tetaplah menjaga kewarasan bersama. Sebab begini Lur, kalau bojo sudah tersenyum bahagia di rumah, urusan negara dan dunia rasanya pasti gampang kita atur. Tabik!

Tulisan Lainnya