Menyala Emak-Emak Latansa!
Acara Latansa (Latihan Perempuan Siaga) kali ini sukses bikin aku sedikit melo, Ndes. Bayangkan saja, pesertanya tembus di atas 600 ibu-ibu muda dengan rentang umur 30 sampai 45 tahun dari tujuh kabupaten se-Solo Raya.
Pemandangan yang bikin mbrebes mili adalah betapa banyaknya emak-emak tangguh yang ikut agenda ini sambil menggendong batita. Bahkan ada yang membawa bayi belum genap satu tahun. Waktu aku ajak ngobrol, jawaban mereka macam-macam dan sukses bikin trenyuh.
Ada yang mantap nyeletuk, “Pengin tetep ASI eksklusif, Tadz!” Ada pula yang matanya berbinar bilang, “Biar anaknya ikut dapat ruh aktivitas ibunya, Mas.”
Malah ada yang sambil mesem-mesem pasrah menjawab, “Ndak ada yang dititipi, Abinya ikut kembara di sini juga, ya harus dibawa.”
Padahal kalau kita rajin scroll media sosial hari ini, linimasa sedang ramai betul membahas isu childfree atau fenomena generasi muda yang takut punya anak. Banyak netizen mengeluhkan masalah rentannya kesehatan mental ibu, mahalnya ongkos hidup, sampai susahnya mencari daycare atau pengasuh anak yang aman.
Aku sih sangat memaklumi keresahan itu. Apalagi sebagai orang yang tinggal di tengah kampung padat penduduk. Realitas ekonomi sekarang memang sedang nggronjal dan sering bikin pusing kepala para pembuat kebijakan di negeri ini.
Namun, melihat langsung jidiyah atau kesungguhan emak-emak PKS Jawa Tengah di tengah sejuknya udara hutan ini, narasi pesimisme itu mendadak rontok. Mereka membuktikan bahwa peran perempuan sungguh luar biasa luas. Para emak-emak ini sanggup melampaui sekat-sekat ketakutan zaman now. Mereka tidak menuntut negara harus sempurna dulu baru mau bergerak turun ke masyarakat.
Peran Perempuan Super
Melihat antusiasme mereka, aku otomatis teringat obrolan ringan dengan istriku di rumah. Sebagai dokter spesialis anak, dia sering bercerita betapa rentannya kondisi psikis seorang ibu menyusui dan pentingnya menjaga kewarasan ibu muda masa kini.
Makanya, aku berani bilang kalau emak-emak peserta Latansa ini selevel pahlawan super. Kalau di film-film Hollywood, mereka ini mirip karakter ibu pelindung di A Quiet Place. Seorang wanita tangguh yang menjaga anak dari ancaman luar, tapi versi kearifan lokal berhijab oranye.
Mereka berani menabrak batas lelah fisik tanpa kakehan rerasan. Fakta di lapangan menunjukkan, kendala kesehatan fisik pasangan di atas umur 50 tahun tak menghambat tingkat kehadiran sesepuh partai. Angka kehadirannya menyentuh 98,2% buat ibu-ibu dan 92% buat bapak-bapak.
Begitu juga kendala pasangan muda soal urusan cuti kerja, bingung yang momong anak, atau kerjaan numpuk. Alhamdulillah semua bisa mereka atasi dengan elegan.
Jidiyah Ibu Tangguh dalam Al-Qur’an
DNA pejuang para ibu ini sejatinya sudah mengalir sejak zaman Ibunda Hajar yang berlari bolak-balik melintasi bukit Shafa dan Marwah. Beliau berjuang sendirian menyusuri gurun gersang demi mencari setetes air untuk bayinya, Ismail, tanpa kehilangan kewarasannya.
Semangat menjaga generasi inilah yang Allah abadikan dengan sangat indah. Al-Qur’an merekam pengorbanan seorang ibu dengan amat presisi dalam Surat Luqman ayat 14:
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
Ayat tersebut sangat pas merangkum keringat ibu-ibu yang ngeyel ingin memberikan hak penuh bagi anak-anaknya di tengah padatnya agenda pemantapan diri. Semoga Allah mencatat semua pengorbanan Bapak dan Ibu sebagai pemberat timbangan amal kelak.
Kini giliran daerah lain unjuk gigi ikutan Latansa menyusul kawan-kawan Solo Raya. Semarang Raya, Pekalongan Raya, Banyumas Raya, Kedu Raya, dan Pati Raya, bagaimana persiapannya? Semua pasti siap!
Jadi, buat sedulur-sedulur yang masih sering pusing memikirkan beban hidup, cemas dengan isu childfree, atau takut melangkah membangun keluarga, mari kita pakai jurus baru ini. “Bismillah, tandang gawe, Gusti Allah sing ngreksa!” (Bismillah, kerjakan saja, Allah yang menjaga).
Tetap waras, tetap bergerak, dan jangan lupa bahagia!