Mengambil Berkah Ekonomi Mudik

oleh

MUDIK adalah tradisi khas yang memiliki hampir semua aspek di dalamnya. Mudik amat mudah ditelisik dari tinjauan spiritual. Selalu dilaksanakan saat bulan Ramadhan jelang Hari Raya Idul Fitri. Di dalamnya terdapat anjuran silaturahim, perayaan hari besar umat Islam hingga dimensi penyaluran kewajiban zakat ke daerah asal.

Mudik juga memiliki kajian secara sosiologis. Setiap tahunnya jutaan pemudik mengunjungi kampung halamannya untuk mengobati rasa rindu kepada keluarga dan sanak saudara. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang patut berbangga dengan kekentalan ikatan keluarganya. Ada rasa untuk tak melupakan jati diri seorang manusia. Salah satunya, mudik dengan pulang ke tempat ia dilahirkan.

Mudik juga memiliki dimensi budaya. Ada tradisi-tradisi khas yang hanya dilakukan saat musim mudik dan Lebaran di daerah. Di Jawa Tengah, masing-masing daerah memiliki cara khas dalam merayakan syawalan. Mudik bahkan amat mungkin dikaji dalam keragaman kuliner, kekayaan mode pakaian hingga munculnya ragam wisata baru.

Menurut Kementerian Perhubungan, diperkirakan pemudik pada tahun ini berjumlah 20-25 juta orang. Angka ini meningkat 5-10 persen jika dibandingkan dengan tahun 2016.

Bertambahnya jumlah pemudik juga akan memberikan tambahan efek dalam berbagai aspek yang sudah disebutkan tadi. Jumlah pemudik yang besar akan memberikan dampak positif yang luar biasa jika dikelola dengan baik. Sebaliknya, persiapan yang kurang menyeluruh dipastikan akan memberikan dampak buruk. Jawa Tengah sudah memiliki musim mudik yang kurang baik dalam dua tahun terakhir setelah peristiwa Jembatan Comal pada 2015 dan Brebes Exit pada tahun 2016.

Tentu kita berharap pada musim mudik 2017, segala efek positif bisa lebih dibesarkan. Semua jajaran dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat termasuk pemudik itu sendiri mesti bersiap agar keberkahan mudik bisa terasa.

Salah satu lini positif yang akan sangat terasa pada musim mudik adalah manfaat mudik secara ekonomi.  Pada periode Ramadhan dan Idul Fitri, kebutuhan uang di masyarakat baik tunai maupun nontunai mengalami peningkatan. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan transaksi di masyarakat.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardjojo mengungkapkan peredaran uang tunai pada bulan suci Ramadhan 2017 diprediksi melonjak hingga 14 persen. Karena itu, pihaknya menyiapkan tambahan Rp 167 triliun untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan uang tunai selama Ramadhan, termasuk saat perayaan Hari Raya Idul Fitri alias Lebaran 1438 Hijriah.

Riset Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) menyebutkan jika total pengeluaran yang dikeluarkan pemudik selama arus mudik dan arus balik 2016 sebesar Rp 124,4 triliun. Proyeksi pemudik yang bertambah tahun ini juga akan mengerek jumlah uang yang beredar selama musim mudik 2017.

Tentu angka ratusan triliun yang berputar selama musim mudik bisa dijadikan stimulan untuk mendongkrak aktivitas perekonomian nasional dan daerah. Pertama, aktivitas perekonomian berputar pada sektor riil contohnya mulai maraknya berbagai usaha mulai dari usaha kecil menengah (makanan, minuman, pakaian, sewa kendaraan) hingga usaha besar (transportasi, asuransi, dan telekomunikasi).

Kedua, perputaran uang yang terjadi saat mudik dapat menciptakan aliran aktivitas ekonomi dari kota besar, khususnya dari Jabodetabek menuju daerah pedesaan. Hal ini bisa dijadikan stimulus aktivitas produktif masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Ketiga, tradisi mudik juga memberikan dampak positif pada keberadaan infrastruktur. Kita ketahui bersama bahwa setiap tahunnya dalam rangka menyambut tradisi mudik ini pemerintah senantiasa melakukan perbaikan infrastruktur mulai dari perbaikan jalan sampai perbaikan tempat-tempat wisata.

Dari tiga manfaat tersebut, pemerintah daerah harusnya bisa menangkap peluang dan perlu menjadikan mudik dan Lebaran sebagai momentum dalam menggerakkan ekonomi dan membuat berbagai terobosan.

Sehingga tradisi mudik ini tidak hanya dijadikan sebagai seremonial yang sifatnya konsumtif. Pemerintah daerah diharapkan bisa melihat pemudik sebagai investor domestik yang sedang berkunjung.

Masih menurut survei IDEAS, pengeluaran pemudik yang mencapai Rp 124,4 triliun seluruhnya dihabiskan untuk hal yang bersifat konsumtif. Praktis selama sebulan arus mudik dan arus balik, potensi perputaran uang tersebut tak memiliki banyak bekas.

Harus ada langkah yang lebih strategis untuk menciptakan geliat ekonomi yang konsisten dengan menjadikan musim mudik sebagai stimulan. Perbaikan sarana infrastruktur harus berdimensi jangka panjang. Sehingga, aktivitas ekonomi pascamudik bisa memanfaatkan pembangunan infrastruktur yang digenjot rutin tiap tahun.

Begitu juga dengan sektor pariwisata. Selayaknya dalam mempersiapkan pelayanan kepada para wisatawan, pemerintah daerah harus meningkatkan pelayanan daerah masing-masing. Sehingga para wisatawan tersebut dapat melihat potensi daerah tersebut mulai dari daerah wisata, sarana transportasi, hasil alam, kerajinan tangan yang berasal dari daerahnya yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Artinya, daerah memungkinkan memunculkan destinasi-destinasi wisata baru yang unik dan menarik. Sehingga, ikon wisata sebuah daerah tidak terpaku pada satu dua tempat semata. Ikon wisata baru ini akan membantu meningkatkan pendapatan asli daerah, meski di luar musim mudik. Mudik menjadi momentum yang sangat pas untuk melakukan promosi besar-besaran sebuah ikon wisata baru. Tentu dengan catatan semua permasalahan sarana pendukungnya sudah selesai dan memadai.

Selain itu daerah mesti menangkap potensi pengeluaran yang besar agar menjadi sektor usaha yang produktif. Pemanfaatan zakat misalnya. Tak sedikit, saudara-saudara kita yang membagikan zakatnya secara langsung saat musim mudik.

Semangat UU No 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat bisa menjadi pintu masuk. Sebab menurut aturan, lembaga pengelola zakat resmi adalah Baznas dan lembaga amil zakat yang mengantongi izin pemerintah. Perpindahan pembayaran zakat secara langsung menjadi lewat lembaga resmi berpotensi mengubah paradigma penyaluran yang awalnya konsumtif menjadi lebih produktif.

Hal ini baru dilihat dari segi pemanfaatan zakat semata. Belum menghitung potensi investasi usaha di daerah yang bisa ditawarkan kepada para pemudik. Tentu akan banyak kreativitas pemanfaatan dana besar yang berpindah tersebut menjadi penggerak ekonomi daerah yang sifatnya berkelanjutan. Secara psikologis, para pemudik tentu akan sangat senang jika melihat daerah asalnya maju dan berkembang secara ekonomi.

Tentang Penulis: Mas Hadi

Gambar Gravatar
Catatan harian perjalanan, pekerjaan, inspirasi dan semuanya. Juga tentang cinta. Selamat menikmati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *