Proyek PLTU Batang Harus Perhatikan Dampak Sosial dan Lingkungan

oleh

PENGERJAAN proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kabupaten Batang harus tetap memperhatikan dampak sosial dan lingkungan sekitar. Saya telah meminta PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) selaku pihak pelaksana untuk tetap memerhatikan lingkungan sekitar dalam pengerjaan proyek tersebut.

Pihak pelaksana harus sesuai dengan roadmap awal dan analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal), memang, selama ini terus muncul protes dari kalangan masyarakat. Untuk itu, proyek harus sesuai dengan roadmap dan Amdal agar tidak merusak lingkungan.

Saya meminta hal tersebut menjadi salah satu prioritas dikarenakan banyak proyek-proyek besar lainnya terhambat persoalan sosial dan lingkungan dengan masyarakat sekitar. Karena, sering biasanya persoalan dampak sosial yang sering terjadi. Seperti truk-truk proyek merusak jalan terus diprotes sama warga, sehingga setiap pelaksana proyek harus memahami karakteristik masyarakat dimana proyek itu didirikan.

Setelah berkunjung ke proyek tersebut, saya mengapresiasi komitmen PT BPI yang secara rutin telah melaksanakan program Amdal. Yang saya dengar sudah kompensasi sosial berupa bantuan tunai sementara untuk petani penggarap dan buruh tani sebagai rencana mitigasi BPI kepada petani terdampak, kompensasi sosial yang terakhir diberikan kepada 656 petani pada 25 Januari 2017.

Sebagai informasi, pembangunan PLTU BatangĀ  ditargetkan mencapai 40 persen di tahun 2017. Pada tahun 2020 ditargetkan dua unit PLTU sudah beroperasi . Pengerjaan proyek akan mencapai puncaknya pada 2018 sehingga jumlah pekerja mencapai 8.000 orang. Proyek PLTU Batang ini sendiri memiliki kapasitas mencapai 2×1.000 mega wat (WT).

 

Tentang Penulis: Mas Hadi

Gambar Gravatar
Catatan harian perjalanan, pekerjaan, inspirasi dan semuanya. Juga tentang cinta. Selamat menikmati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *