Nasionalisme dan Komodo

oleh

PEROLEHAN sementara vote lima besar versi New7Wonders (N7W) of Nature secara berurutan adalah kadal air (Malaysia) dengan 46.643.507 suara/ SMS, gajah hitam (Thailand) 43.976.151 suara/ SMS, komodo (Indonesia) 40.421.843 suara/ SMS, burung deil (Afrika) 34.800.619 suara/ SMS, dan ikan steddo (Selandia Baru) 27.617.994 suara/ SMS. Menbudpar dikabarkan menyeru kepada masyarakat Indonesia, ’’Ayo vote Pulau Komodo. Caranya: Ketik Komodo kirim ke 9818, biaya 1.000.”

Pesan singkat itu hampir dua tahun ini, dan menjadi lebih sering dalam tiga bulan terakhir, mengisi inbox (kotak masuk pesan) ponsel kita. Nasionalisme seperti sedang diusik, bahkan ada teman menggunakannya untuk mengukur tinggi rendahnya nasionalisme dengan mengatakan,’’ Kamu belum SMS (soal komodo-Red) ya berarti nasionalismemu rendah. Seribu rupiah kamu perhitungkan padahal ini harga diri bangsa.’’

Pertanyaannya, apakah itu memang pesan dari Kemenparbud? Apakah benar penetapan keajaiban dunia cukup lewat polling? Wikipedia menjelaskan Komodo adalah pulau di Kepulauan Nusa Tenggara, habitat asli komodo, lengkapnya biawak komodo, yang memiliki nama latin Varanus komodoensis. Spesies kadal terbesar di dunia itu, yang oleh penduduk setempat dinamai ora, hidup di Pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami.

Pulau-pulau itu merupakan Taman Nasional Komodo yang dikelola pemerintah pusat. Pulau Komodo berada di timur Sumbawa, dipisahkan oleh Selat Sape. Pulau ini masuk wilayah Kecamatan Komodo Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, ujung paling barat, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Berawal dari penilaian akan keunikan dan keaslian Pulau Komodo tahun 2009, Taman Nasional Komodo diusulkan menjadi finalis New7Wonders of Nature yang baru diumumkan 2010 melalui voting secara online di www.N7W.com. Dari sinilah munculnya polemik SMS permintaan dukungan terhadap Taman Nasional Komodo.

Ambil Hikmah

Terusiknya nasionalisme masyarakat dengan beredarnya SMS pemilihan Pulau Komodo sebagai warisan alam dunia bukan tanpa sebab. Pada 7 Juli 2007 dari Lisabon Portugal ada pernyataan bahwa Candi Borobudur tak lagi masuk dalam 7 keajaiban dunia.

Pengumuman yang disampaikan oleh yayasan swasta dari Swiss itu mengabarkan bahwa hasil pilihan hampir 100 juta pemilih, Borobudur tak masuk dalam daftar, dan yang terpilih saat itu Taj Mahal di India, reruntuhan Pink Petra yang berusia beberapa abad di Yordania, patung Kristus Sang Penebus di Rio de Janeiro, reruntuhan Machu Picchu Inka di Peru, kota kuno bangsa Maya atau Chichen Itza di Meksiko, tembok raksasa China, dan Colosseum Roma.

Saat itu sebagian masyarakat Indonesia mempertanyakan siapa yang menyelenggarakan polling itu? Kenapa harus melalui polling padahal UNESCO telah menetapkan Borobudur sebagai UNESCO’s World Heritage Sites melalui SK Nomor 348 Tahun 1991. Kini kontroversi serupa dipicu oleh aktivitas yayasan bernama New7Wonders Foundation. Yayasan ini gencar mempromosikan Pulau Komodo untuk menjadi salah satu dari warisan alam terbaik dunia. Namun akhirnya kita terkejut dengan ’’keajaiban’’ lembaga itu. Adalah Dubes Indonesia untuk Swiss Djoko Susilo yang menyampaikan keraguan atas integritas yayasan ini.

Dari sisi bisnis dan pemasaran, tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukan New 7 Wonders Foundation. Sebagai pihak swasta, ia memiliki hak untuk menentukan kategori, sekaligus metode seleksinya.

Kondisi psikologis masyarakat Indonesia saat ini dianggap pangsa pasar yang tepat, yaitu masyarakat yang mendukung kemudian digiring seolah-olah pemilihan ini merupakan salah satu bentuk kecintaan terhadap warisan budaya. Maka apalah arti seribu rupiah per SMS jika diukur dari kecintaan terhadap bangsa.

Dari 40.421.843 SMS yang masuk ke ’’penyelenggara’’ dikalikan Rp 1.000 berarti sedikitnya Rp 40 miliar tersedot ke sana. Belum lagi dari SMS kepada rekan untuk mengajak mengirimkan dukungan.

Pemerintah harus mengambil hikmah dalam menjaga dan mempromosikan keanekaragaman budaya dan alam. Apa yang dilakukan oleh New7Wonders Foundation memberi pelajaran bahwa ada seribu jalan untuk bisa menanamkan kecintaan, kebanggaan, serta pengenalan terhadap warisan budaya dan alam kita. (10)

— Hadi Santoso, anggota Komisi B (Perekonomian dan Pariwisata) DPRD Jateng dari Fraksi PKS

 

*) Sumber: Suara Merdeka Cyber News

Tentang Penulis: Mas Hadi

Gambar Gravatar
Catatan harian perjalanan, pekerjaan, inspirasi dan semuanya. Juga tentang cinta. Selamat menikmati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *