Cerita Sehari Bersama Sang Pejuang LVRI Jateng

oleh

KEGADUHAN pemberitaan, baik yang bernuansa disintegrasi bangsa, intoleransi keberagaman, serta kegaduhan antar elemen bangsa yang cenderung saling mencela, menyudutkan dan menjatuhkan membawa saya pada titik jenuh aktivitas. 

Kemudian, hiruk peringatan Kemerdekaan RI ke 71, mengantarkan kaki saya pada ruangan kecil di belakang Museum Ronggo warsito komplek Tugu Muda Semarang, Senin (22/8/2016) lalu. Ruang sederhana ini merupakan tempat untuk berkumpul dan beraktifitas para veteran yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Jawa Tengah. 

Dengan wajah yang cerah bersemangat kami ditemui oleh Ketua Daerah LVRI Jateng, MA Munadjat. Karena kami pernah ketemu dan berinteraksi saat beliau menjadi Bupati Kudus, pembicaraanpun mengalir renyah. Saya pun mengutarakan kegelisahan kondisi bangsa ini.

Diawal diskusi, beliau mendeskripsikan bahwa veteran sendiri adalah adalah warga negara Indonesia yang bergabung dalam kesatuan bersenjata resmi yang diakui oleh pemerintah yang berperan secara aktif dalam suatu peperangan menghadapi negara lain dan/atau gugur dalam pertempuran untuk membela dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Atau warga negara Indonesia yang ikut serta secara aktif dalam pasukan internasional di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melaksanakan misi perdamaian dunia,yang telah ditetapkan sebagai penerima Tanda Kehormatan Veteran Republik Indonesia,”jelasnya panjang lebar.

Khas pejuang beliau memberikan motivasi bahwa negara kita adalah negara besar, mengalir beliau Bercerita tentang Kekayaan alam martapura, pulau Belitung, dan beberapa daerah yang pernah beliau singgahi. “Kita kaya mas, harus bisa bersyukur dengan terus bekerja keras,” demikian pesan beliau.

Cerita beliaupun berlanjut soal pedih perihnya mempertahankan kemerdekaan, saat operasi trikora pembebasan irian jaya, operasi pembebasan Timor timur. Wajah beliau menerawang jauuh guratan kesedihan Nampak diwajah beliau mengenang para pejuang yang gugur saat itu.  “Kita kehilangan banyak putra terbaik bangsa,”ungkapnya.

Saat saya tanya soal kondisi kita hari ini,  beliau dengan senyum mengatakan, ini soal kesenjangan kesejahteraan. “Dalam satu tempat ada orang yang kekeyangan sedangkan tetangganya kelaparan,  sebagian masyarakat berlimpah ruah fasilitas sedangkan yang lain penuh keterbatasan,” tutur beliau. 

Separatisme, OPM, gejolak pemberotakan sebagian besar lahir karena Aspek ekonomi bukan ideologi. “Lebih dominan perut mas, daripada soal aqidah,” lanjutnya. 

Diakhir-akhir diskusi kami beliau berpesan, negeri ini harus tetap di jaga, warisan para ulama yang merupakan Anugerah tuhan untuk kita, patriotisme saat ini adalah Perjuangan pemerataan kesejahteraan, perlindungan terhadap hak kaum papa, setidaknya semua orang berhak hidup layak dinegeri ini, “pesan beliau.

Aku tertegun bagaimana bisa beliau tetap memikirkan orang lain, padahal beliau sebagai veteran tunjangan penghormatan beliau jumlah nya sangat tidak layak, Bahkan karena sedikitnya Lebih layak disebut sebagai tunjangan belas kasian. beliau telah mengajarkan pada saya, seberapapun capaian kita harus disyukuri, dan jangan lupakan memikirkan sesama dalam kondisi apa pun.

Terimakasih pak Munadjat, terima kasih pahlawan,terimakasih veteran.. tapi engkau harusnya berhak mendapatkan kehormatan, bukan belas kasihan.

Tentang Penulis: Mas Hadi

Gambar Gravatar
Catatan harian perjalanan, pekerjaan, inspirasi dan semuanya. Juga tentang cinta. Selamat menikmati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *