Cerita dari Kampung Gula Jawa di Pelosok Wonogiri

oleh
Bersama Lik Warni dan Mas Sri berdialog diatas tungku pembuatan gula jawa. (Foto: Hardiantono/tOekangpoto)
Bersama Lik Warni dan Mas Sri berdialog diatas tungku pembuatan gula jawa. (Foto: Hardiantono/tOekangpoto)

NAMANYA KADIYEM. Perempuan dengan usia sekitar 45-an yang masih terus bersemangat menatap hidup meski jauh dari hiruk pikuk ini nampak masih berkecimpung dengan persiapan membuat gula jawa, kala kami dan rombongan komunitas tOekangpoto mendatangi kediamannya di Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri.

Sebagai informasi, kecamatan Paranggupito merupakan paling ujung selatan di kabupaten Wonogiri. Kecamatan yang merupakan pecahan dari kecamatan Giritontro sejak 3 Maret 1993 ini memiliki kondisi geografis pegunungan yang kebanyakan berupa lahan kering. Jika kemarau, suasana tanah di wilayah sini kering, namun saat hujan, subur menghijau.

Salah satu potensi di kecamatan Parangupito adalah penghasil gula jawa. Industri rumahan gula jawa menjadi salah satu penghasilan utama masyarakat setempat, selain dari hasil perkebunan, seperti kacang dan juga pertanian seperti padi gogo.

Nah, biasanya para pembuat gula jawa menjual setiap pasaran yaitu ke pasar Pahing yang merupakan pusat perdagangan kecamatan  Paranggupito,  sebagian juga dijual ke para tengkulak yang kebanyakan berasal dari kota.

Gula jawa Paranggupito biasanya digunakan untuk bumbu masak, bahan pembuat kecap, bahan pembuat dodol, pemanis minuman dan masih banyak lagi manfaat lain.

Kembali ke rumah Lik Kadiyem.

Malam itu, dengan pakaian ala penududuk desa pada umumnya, Kadiyem menyambut kami, 25 anggota komunitas tOekangpoto langsung di dapurnya. “Nuwun sewu Lik Kadiyem, meniko rencang-rencang badhe moto proses pembuatan gula jawa dari awal sampai jadi,”kata Mas Sriyanto, sahabat kami yang merupakan penduduk asli Paranggupito yang juga masih kerabat dengan Lik Kadiyem.

“Wah, ngapuntene lho pak Sri, niki wau mpun dados gulane, dados mboten saged mundhut gambar,”jawab Kadiyem.

Atas desakan dan diskusi panjang antara Mas Sri dan teman-teman tOekangpoto yang dikomandani mas Anton, mas Bashith dan kawan-kawan, akhirnya malam itu, Sabtu (14/5/2016) kami menikmati malam sunyi dan mengambil gambar proses pembuatan gula jawa Paranggupito.

Bersama Lik Warni dan Mas Sri berdialog diatas tungku pembuatan gula jawa. (Foto: Teguh Prasetyo/tOekangpoto)
Bersama Lik Kadiyem dan Mas Sri berdialog diatas tungku pembuatan gula jawa. (Foto: Teguh Prasetyo/tOekangpoto)

Selama kurang lebih 2,5 jam, sejak sekitar pukul 18.00 WIB hingga pukul 20.30 WIB kami menikmati satu demi satu proses alami pembuatan gula jawa tersebut.

Sebagai informasi, proses membuat gula jawa ini di awali dengan pengambilan nira kelapa atau dalam bahasa setempat disebut sajeng, yang didapat dari pohon kelapa muda. Dalam pengambilan nira kelapa kurang lebih 10 liter ini dibutuhkan waktu kira-kira 3 jam dari 7 batang kelapa.

Dalam menghasilakan gula jawa tersebut ada faktor yang menyebabkan gula tidak bagus, misalnya pergantian musim, pengadukan dalam proses pengolahan gula tidak teratur, suhu perapian yang tidak stabil. Maka hasilnya kadang menjadi lembek.

Adapun, untuk memperoleh nira yaitu dengan cara memotong bagian bunga kelapa atau bisa disebut manggar, selanjutnya manggar yang sudah di potong di tali agar nira yang dihasilkan dapat keluar dengan teratur.

Untuk tempat penampungan nira sementara dengan menggunakan kaleng, botol air mineral atau ember kecil. Nah, jika nira kelapa sudah terkumpul dalam penampungan tadi kemudian dijadikan satu dan siap untuk di olah.

Saat kami berkunjung ke rumah Lik Kadiyem, kami hanya bisa menyaksikan proses di dalam dapur. Yakni nira yang terkumpul dimasukkan kedalam wajan dan biarkan mendidih. Setelah nira kelapa mendidih aduk secara teratur hingga nira kelapa tersebut mengental. Kemudian itu diangkat dan diaduk lagi sampai nira kelapa benar-benar mengental.

Setelah itu siapkan cetakan yang terbuat dari kayu yang dilubangi bulat-bulat, selanjutnya cetakan tersebut di beri alas plastik yang tipis guna melapisi cetakan tersebut agar tidak lengket. Nira yang telah mengental kemudian dimasukkan kedalam cetakan tersebut sampai habis dan kemudian dibiarkan sekitar 30 menit hingga dingin dan mengeras. Proses ini adalah proses akhir pembuatan gula jawa, dan selanjutnya siap dijual.

Bersama teman-teman komunitas tOekangpoto di rumah Lik Warni. (Foto: Bashith El Qudsi/tOekangPoto)
Bersama teman-teman komunitas tOekangpoto di rumah Lik Kadiyem. (Foto: Bashith El Qudsi/tOekangPoto)

Proses tersebut memakan waktu cukup lama, namun hasilnya bisa maksimal, karena gula jawa masyarakat Paranggupito, salah satunya buatan Lik Kadiyem ini dikenal cukup berkualitas. Namun yang disayangkan, produk berkualitas semacam ini masih kalah dengan produk pasaran.

Selama proses pembuatan gula jawa tersebut berlangsung, para anggota komunitas tOekangpoto nampak antusias mengambil spot-spot gambar human interest seperti gula jawa Lik Kadiyem ini. Setelah usai, kami pun mengucapkan terimakasih kepada Lik Kadiyem, atas waktu dan kesempatan membersamai kami, komunitas tOekangpoto.

Hujan rintik-rintik dan gelapnya malam itu mengiringi perjalanan kami meninggalkan desa Gunturharjo, tempat sunyi para pembuat gula jawa Wonogiri.

Tentang Penulis: Mas Hadi

Gambar Gravatar
Catatan harian perjalanan, pekerjaan, inspirasi dan semuanya. Juga tentang cinta. Selamat menikmati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *