Belajar Kepahlawanan Dari Bung Hatta

oleh

 “Hanya satu negeri yang menjadi negeriku.

Ia tumbuh dalam perbuatan dan perbuatan itu adalah usahaku.”

Syair karya pujangga Rene de Clercq itu kerapkali dikutip Muhammad Hatta dalam pidato-pidato pergerakannya saat menjabat sebagai ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda. Di usianya yang masih 20-an tahun saat itu, Hatta telah menyibukkan diri untuk berbuat sesuatu bagi bangsanya, memperjuangkan ide “Indonesia Merdeka” di kancah internasional.

Menyambut hari Pahlawan tahun ini, pemikiran dan gerakan nyata Muhammad Hatta, sebagai tokoh pemimpin bangsa layak dijadikan inspirasi bagi kaum muda negeri ini untuk mengisi ruang kemerdekaan. Hatta telah mampu memaknai politik lebih dari sekedar alat kekuasaan atau seni peluang mencari kesempatan sebagaimana yang disebutkan Otto Van Bismarck dengan konsep Kusnt des Moeglichen (art of possible). Namun jauh daripada itu, Hatta mendudukan politik sebagai art of principles, atau seni dalam menjalankan prinsip (Kleiden, 2002).

Ya, keteguhan prinsip dalam berpolitik merupakan harga mati bagi Hatta. Pria Minang kelahiran tahun 1902 percaya, berpolitik harus dijalani dengan sikap konsekuen atas apa yang diyakininya, apapun resikonya. Jalan non kooperatif dengan penjajah membuat Hatta selalu berhadapan vis a vis dengan pemerintahan kolonial. Dia sudah merasakan dinginnya dinding penjara Den Haag Belanda di tahun 1927 ketika umurnya baru saja mencapai 25 tahun. Dua tahun setelah kepulangannya, kembali Hatta ditangkap dan dipenjarakan di Glodok, Jakarta (1934). Kemudian dibuang ke Digul Papua, Banda Naira dan selanjutnya dipenjara di Sukabumi hingga tahun 1942.

Namun itu semua tidak melunturkan prinsipnya dalam berpolitik keras terhadap penjajah. Bahkan demi prinsipnya pula, Hatta kemudian mengambil jalan ekstrem di saat tengah berkuasa. Saat Indonesia Merdeka yang dicita-citakannya menjadi kenyataan, dia secara sukarela mengundurkan diri dari tampuk kepemimpinan dwi tunggal bersama Soekarno pada tahun 1956, karena merasa dirinya sudah tidak bisa satu jalan lagi dengan pemimpin besar revolusi tersebut.

 

Tugas Pemimpin

Bagi Hatta, seorang pemimpin adalah orang yang mendidik. Itulah tugas pertamanya. Memimpin, lanjut Hatta, berarti menyelami perasaan dan pikiran rakyat serta memberi inspirasi agar rakyat bisa keluar dari kesulitan yang membebaninya (Mestika Zed, 2002). Hatta berkeyakinan dengan jalan pendidikan lah tugas kepemimpinan tersebut bisa dituntaskan.

Pendidikan yang di maksud Hatta bukan hanya pendidikan politik saja yang, tapi juga disertai dengan pendidikan ekonomi dan sosial sehingga rakyat lebih tercerahkan dan tersejahterakan. Tentu kita akan ingat bagaimana Hatta meletakkan sendi kehidupan ekonomi bangsa Indonesia dengan semangat gotong royong. Bung Hatta dikenal sebagai bapak koperasi Indonesia. Pemikirannya tentang koperasi berangkat dari pandangannya tentang bangsanya yang masih banyak di garis kemiskinan. Ketajaman menangkap permasalahan bangsa dan didorong semangat melakukan pendidikan kepada masyarakat melahirkan konsep besar perekonomian yang sampai saat ini dianut oleh bangsa kita.

Bukan hanya itu Hatta juga mengingatkan bukan hanya rakyat saja yang harus belajar namun pemimpin harus senantiasa terus menerus mendidik diri sendiri. “Hanya dengan itulah kita bisa mendidik orang lain,” tandasnya. Pendidikan yang dimaksud terutama adalah pendidikan karakter yang sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan kualitas kepemimpinan. Pendidikan ini berlandaskan pada kecintaan pada kebenaran dan keberanian untuk mengakui kesalahan (Pabotinggi, 2002).

Salah satu yang pantas kita teladani dalam keberhasilan Hatta dalam mendidik dirinya adalah menampilkan sikap kenegarawan dengan hormat dan patuh terhadap pemimpin meskipun berbeda pendapat. Seperti diketahui Bung Karno dan Bung Hatta merupakan dua pribadi yang karakter dan kepribadiannya amat berbeda. Bahkan sering mereka saling berbeda pendapat secara tajam. Tetapi Bung Hatta tetap menghargai Bung Karno tanpa ada rasa benci sedikitpun disinilah letak jiwa besar seorang Hatta

Dalam panggung kepemimpinan Indonesia saat ini, rakyat justru banyak disuguhi akrobat-akrobat para politisi yang bercampur dengan retorika-retorika politik semu. Ibarat tayangan sinetron, para artis datang silih berganti dengan berbagai peran dan karakter. Namun jalan ceritanya relatif sama dan hanya berakting untuk memenuhi keinginan penonton. Pun para politisi tua dan muda dari berbagai partai boleh jadi datang dengan segepok ide dan gagasan, membuat gaduh ruang-ruang publik (public spheres). Namun seringkali manuver-manuver itu hanyalah alat pemuas katarsis sosial masyarakat dan bagian dari strategi politik rente (rent seeking) belaka.

Sulit memang menerapkan keteguhan prinsip dan karya nyata seperti Hatta, apalagi ketika sedang berkuasa. Adagium politik Lord Acton bahwa kekuasaan cenderung membuat orang korup dan menyimpang telah terpapar faktanya di berbagai sendi kehidupan bangsa ini.

Dengan semangat Hari Pahlawan,kita berdoa semoga segera terlahir kembali Hatta-Hatta baru yang benar-benar berkomitmen bagi kemajuan bangsanya. Para pemimpin yang berjiwa asketis, sederhana dan mengutamakan kepentingan rakyat diatas kepentingan pribadinya. Sejarah bangsa Indonesia, pernah mencatat, seorang wakil presiden bernama Muhammad Hatta yang sampai akhir hayatnya pun hanya mampu mengoleksi guntingan iklan sepatu Bally idamannya, karena tak kuasa membeli dengan sisa gajinya.

*) Tulisan ini dimuat di Harian Wawasan, Jateng, tanggal 10 November 2011

Tentang Penulis: Mas Hadi

Gambar Gravatar
Catatan harian perjalanan, pekerjaan, inspirasi dan semuanya. Juga tentang cinta. Selamat menikmati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *