Anggaran Rp. 3 Triliun Untuk Stabilisasi Pangan

oleh

SEMARANG- Pemerintah pusat mengalokasikan anggaran sebesar Rp 3 triliun untuk program stabilisasi pangan serta mengatasi berbagai gangguan iklim yang terjadi di Indonesia. Dana cadangan pangan ini sekaligus sebagai salah satu penunjang untuk meningkatkan target surplus 10 juta ton beras.

Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, alokasi anggaran ini sudah dibahas dan pihaknya telah meminta kepada masing-masing gubernur untuk mendata kebutuhan apa saja yang ada di wilayahnya untuk meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia. Jawa Tengah sebagai salah satu sentra pangan dan lumbung padi nasional menjadi salah satu prioritas dalam pemberian cadangan dana tersebut.

’’Kebutuhan pangan sangat vital dan kita telah melakukan upaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan stabilisasi pangan khususnya karena banyak sekali gangguan iklim yang menyebabkan salah satunya kekeringan di mana-mana,’’ jelas Hatta yang ditemui usai acara Partai Amanat Nasional (PAN) di Semarang, Minggu (2/10).

Menurut Ketua Umum DPP PAN tersebut, anggaran sebesar Rp 3 triliun nantinya bisa digunakan untuk berbagai keperluan pangan dan pertanian. Menurut dia, sudah banyak kebutuhan dan permintaan dari daerah-daerah, misalnya bantuan traktor, pengadaan pompanisasi, irigasi terpadu ataupun alat pengering gabah. Untuk hal tersebut, pihaknya meminta kepada setiap pemerintah daerah agar segera menyiapkan proposal pengajuan bantuan untuk mendapatkan bantuan dana tersebut.
’’Sampai sekarang baru terpakai sekitar Rp 300 miliar untuk mengatasi puso di berbagai daerah,’’ ujarnya.

Asuransi Petani

Sementara itu, pemerintah diminta mencari langkah terobosan untuk menjamin kesejahteraan petani lewat asuransi. Anggota Komisi B DPRD Jateng Hadi Santoso menyatakan, petani Jateng sebagai salah satu penyangga pangan nasional juga harus bisa mendapatkan jaminan apalagi kondisi musim saat ini sangat tidak menentu ditambah dengan intensitas bencana alam seperti kekeringan, banjir.

’’Asuransi petani akan memberikan jaminan lebih baik di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu ini. Kekeringan telah membuat lahan pertanian puso hingga ratusan hektare dan waduk juga kering sehingga banyak yang kehilangan mata pencaharian,’’ ujar Hadi Santoso.
Di sejumlah daerah, lanjut dia, juga sudah banyak petani beralih profesi sebagai buruh bangunan di perkotaan karena tak ada lagi lahan yang bisa digarap. Kondisi ini menurutnya bisa mengancam produktivitas pertanian Jateng secara keseluruhan. Bentuk asuransi petani ini memang perlu dirumuskan lebih lanjut seperti seperti apa mekanisme dan besarannya.
’’Ini bisa direalisasikan demi kesehjateraan petani dan sangat memungkinkan. Tidak hanya stabilitas pangan yang dipikirkan tetapi juga nasib petaninya,’’ imbuhnya.

Sumber: Suara Merdeka CyberNews

Tentang Penulis: Mas Hadi

Gambar Gravatar
Catatan harian perjalanan, pekerjaan, inspirasi dan semuanya. Juga tentang cinta. Selamat menikmati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *